Kebutuhan gas domestik, baik untuk industri, listrik, pupuk, dan lainnya diproyeksikan akan naik 15% pada 2019. Perkiraan kebutuhan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Indonesian Gas Society (IGS) Daniel S Purba dalam sebuah diskusi tentang tata kelola gas di Jakarta, Rabu (26/8).
"Dari kenaikan 15% itu, 90% diproyeksikan untuk kebutuhan listrik," ujar Daniel.
Peningkatan itu, kata dia, menjadi tantangan bagi kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) dalam menaikan produksi gas yang saat ini masih terkungkung beberapa permasalahan. Salah satu masalah yang disoroti ialah penyerapan gas oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Direktur Komersial & Pengembangan Bisnis PT Pertamina Gas Ahmad Kudus menyayangkan sampai saat ini penyerapan gas oleh PLN memerlukan waktu yang sangat lama. PLN diklaimnya terus mengulur waktu untuk melakukan monetisasi terhadap gas yang dijual para KKKS.
"Masalah untuk domestik ini buyernya terbatas. Kalau PLN ga beli, kita bingung," tandasnya.
Ia mencontohkan gas dari Lapangan Senoro dan Lapangan Matindok, Sulawesi Tengah. Dari lapangan-lapangan yang dioperatori JOB Pertamina Medco E&P Tomori Sulawesi itu, produksi gasnya mencapai 450 juta kaki kubik pe hari (mmscfd). Dari jumlah tersebut, 25 mmscfd dialokasikan ke PLN.
"Itu saja belum dimonetisasi PLN," cetusnya.
Padahal, menurut dia, pengembangan hulu gas tidak bernilai investasi kecil. Harga keekonomian pengembangan hulu baru bisa tercapai bila ada monetisasi dan pengembangan hilir gas.
Pertagas sendiri menargetkan hilirisasi gas dapat dibangun di Jawa dan Sumatera hingga 2019. Hilirisasi itu akan dibangun dengan menambah Terminal Regasifikasi di Jawa Barat dan pembangunan pipa transmisi gas yang kemudian bisa dibangun jaringan gas kota (jargas).
"Kita menargetkan 2019 pipa transmisi akan terbangun sepanjang 2.500 km di Jawa dan luar Jawa," imbuhnya. (Q-1)