Imbal Hasil SBN Memburuk

Irene Harty
24/8/2015 00:00
Imbal Hasil SBN Memburuk
(FOTO ANTARA/Puspa Perwitasari)
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengungkapkan imbal hasil Surat Berharga Negara cenderung memburuk.

"Kita lihat mulai Februari yield terendah, Maret bergerak naik, Juli mulai memburuk," ujarnya dalam bincang bersama media di Ruang Pers Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (24/8).

Baginya, kondisi eksternal memang mempengaruhi dan Kementerian Keuangan akan tetap dijaga sampai maturitynya. Indonesia tidak perlu terlalu mengikuti arus akibat pengaruh eksternal.

"Market jelek, kita enggak perlu jor-joran," tambahnya.

Ke depan Kementerian Keuangan terus melihat tenor tiga tahun Surat Utang Negtara dan mempertimbangkan juga suku bunga acuan Bank Indonesia.

Direktur Surat Utang Negara Ditjen PPR Kementerian Keuangan Loto Srianita mengatakan hingga Jumat (21/8) untuk tenor 10 tahun di level 8,84%. Tapi hari ini dia mengaku yield sempat menyentuh kepala 9 meski belum tahu kondisi penutupan.

"Kamu sendiri kan tahu global apa jadi yang kemarin FOMC rilis, jadi ini saja semakin belum ada kepastian lagi, waktu itu mengarah September naik sekarang jadi uncertain lagi," jelas Loto.

Belum lagi ada rilis Purchasing Managers Index China bahwa kekhawatiran akan timbul lebih besar lagi dari ketidakpastian itu.

Pemerintah sendiri mengharapkan yield dapat diperoleh semurah-murahnya. Kondisi imbal hasil sekarang merupakan cerminan kondisi pasar yang tidak bisa didikte pemerintah.

Hal itupun karena sentimen bukan hanya datang dari sentimen domestik tapi sentimen global.

"Bahkan kadang-kadang global sendiri pengaruhnya demikian besar walaupun positif di domestik enggak bisa juga mengoffset pengaruh global yang lagi galau, uncertain," sahutnya.

Harapan yield yang menurun berdasar fundamental ekonomi saat ini menurut Loto berada tidak jauh-jauh dari inflasi yoy yang sudah mencapai 7,26%. Namun dengan kondisi investor bukan hanya dari domestik melainkan dari asing.

Dengan porsi 38%, investor asing, dikatakan Loto, terekspos oleh risiko mata uang. Jadi meski di satu sisi dilakukan pendalaman pasar untuk memperbanyak investor asing, menambah manfat pembiayaan, pengamanan di sisi lain investor asing terekspos risiko pasar yakni risiko mata uang.

"Jadi kalau memang semua investor domestik mungkin cuma berapa deviasi premium di atas inflasi cukup tapi ini ada currency risk," imbuh Loto.

Pemerintah akan tetap mengupayakan pendalaman pasar dan kalau bisa semakin luas investor domestik.

Loto menilai pembelian kembali pun bisa dilakukan. Jika memang ada pembelian kembali baik dari Bank Indonesia atau pemerintah dan ada investor yang mau beli dengan yield sekarang dianggap murah itu bisa juga dilakukan.

Penurunan yield memang dianggap penting. "Peluang kecil kalau yield tinggi," tandasnya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya