Cepat Kaya dengan Kereta Cepat

Windy Dyah Indriantari
23/8/2015 00:00
 Cepat Kaya dengan Kereta Cepat
(--(ANTARA/Rivan Awal Lingga))
"Jika ingin (rakyat) kaya, bangunlah jalan." Gao Hairan, staf ahli deputi Departemen Kerja Sama Internasional Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional (NDRC) Tiongkok, mengemukakan pepatah bangsanya tersebut kepada Media Indonesia, dalam perjalanan menumpang kereta cepat dari Beijing ke Shanghai, Sabtu (22/8).

Bagi Tiongkok masa kini, jalan bukan hanya yang secara fisik berbentuk jalan beraspal, tetapi juga rel-rel kereta. Tahun ini saja, ada lebih dari 8.000 kilometer jalur kereta yang tengah dibangun. Sebanyak 2.813 km di antaranya merupakan jalur kereta cepat.

Tidak main-main, menyiapkan jalur kereta berarti siap dengan pasokan listrik untuk mengoperasikannya. Seluruh kereta di Tiongkok dijalankan dengan tenaga listrik.

Salah satu penopangnya adalah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Shanghai Waigaqiao No 3 yang berkapasitas 2x1.000 megawatt (Mw). Pembangkit bersumber energi dari pembakaran batu bara itu diklaim Tiongkok sebagai PLTU terefisien dan paling ramah lingkungan di dunia.

Sebagai perbandingan, Indonesia baru akan membangun pembangkit dengan kapasitas sebesar itu di Jawa Tengah. Itu pun hingga kini belum bisa dimulai pembangunannya karena masalah pembebasan lahan.

"Kami tidak pernah mengalami gangguan operasional akibat kekurangan pasokan listrik, meskipun banyak kereta cepat yang beroperasi," ungkap Gao.

Tiongkok patut berbangga. Kini mereka memiliki kereta cepat dengan total panjang rel terpanjang di dunia, mencapai 17 ribu km. Jumlah penumpang yang terangkut tercatat 3,11 miliar tahun lalu.

Tiongkok menargetkan akhir tahun ini total panjang rel akan mencapai 19 ribu km. Panjang rel itu bila dibentangkan di wilayah Indonesia dari ujung barat hingga timur bisa melewati empat kali bolak-balik.

Jalur-jalur kereta cepat membantu memeratakan perekonomian daerah setempat, sekaligus meredam laju urbanisasi.

Dengan adanya transportasi massal berkecepatan rata-rata 305 km/jam seperti yang dilakoni kereta cepat Beijing-Shanghai, pekerja tidak perlu tinggal di kota yang berbiaya hidup mahal. Kendati, mereka bekerja di kota tersebut.

Orang bisa mencari nafkah di Surabaya, namun tinggal di Kediri. Toh, perjalanan hanya sekitar setengah jam.

Proyek kereta cepat, mengadopsi teknologi Tiongkok ataupun Jepang, sudah selayaknya diterapkan di Indonesia. Syaratnya, diikuti proses transfer teknologi. Kelak, mesti kita sendiri yang membangun dan merawat kereta cepat di seluruh wilayah negeri. "Anda akan bisa seperti kami," cetus Gao.(Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya