KONFLIK Kabinet diakui memiliki pengaruh besar bagi pelaku pasar. Ketua Asosiasi Pedagang Pribumi Indonesia Ismed Hasan Putro menyebutkan pasar menjadi risau karena tak ada sinergi di kabinet.
"Seiring perjalanan waktu muncul perdebatan tak produktif diantara kabinet yang menimbulkan kerisauan pasar. Mulai tak ada sinergi antara kabinet. Hal ini jadi snowball effect," kata Ismed Jakarta, Sabtu (22/8).
Ismed menjelaskan kabinet yang tak sinergi menjadi keraguan bagi pelaku pasar untuk menentukan kegiatan ekonomi. Dia meminta pemerintah tak berkutat pada urusan internal saja.
"Kita habis waktu dengan dinamika inernal pemerintahan. Ini menambah deretan waktu panjang untuk menunggu. Padhal pasar butuh waktu yang cepat," ujar mantan direktur RNI itu.
Ismed pun berharap agar pemerintah fokus pada kebijakan-kebijakan ekonomi dan tak kembali lagi terjerumus pada perdebatan politik yang terlalu mengulur-ulur waktu.
"Mengurangi frekuensi kegaduhan politik. Kalau kegaduhan politik ekskalasi ya tak masaah, tapi ini kan menurunkan," ujar dia.
Pasar Sesalkan reshuffle tingkat menko
Lebih lanjut Ismed Hasan Putro mengungkapkan kekecewaannya terkait otak-atik kabinet ditingkat menteri koordinator. Ismed bilang, pergantian itu tak menjawab kebutuhan pasar selama ini.
"Pergantian itu ternyata jauh dari hubungan pelaku pasar, pengusaha dan investor. Kenapa yang diganti justru Menkonya? Ini pangangan jauh dari apinya," kata Ismed.
Sebagai pelaku pasar, Ismed menilai ada sektor lain yang perlu diperhatikan untuk dirubah. Kata dia, menteri teknislah yang perlu diganti karena mrhubugan langsung dengan kebijakan pasar.
"Banyak masalah itu di teknis. Bukan di menkonya. Yang perlu diperhatikan itu Perdagangan, Perinsdutrian dan Pertanian kemudian juga Keuangan harus ada penyegaran," ujarnya.
Pergantian, sambung Ismed, bukan diartikan secara harafiah. Setidaknya, dia meminta ada pandangan baru diaetiap kementerian itu dalam menentukan kebijakan pasar.
"Tak berarti diganti. Bisa saja orientasi kebijakan yang diganti. Harus lebih membumi. Jangan jadi amunisi partai-partai berpolitik," tutup dia. (Q-1)