BRAU Tetapkan Skema Pelunasan Utang Rp6 Triliun

Nuriman Jayabuana
19/8/2015 00:00
 BRAU Tetapkan Skema Pelunasan Utang Rp6 Triliun
( FOTO ANTARA/Rosa Panggabean)
Emiten PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) menyiapkan perencanaan restrukturisasi utang obligasi senilai 450 juta USD yang gagal dibayarkan kepada investor Singapura. Direktur Utama BRAU Fuganto Widjaja mengatakan langkah pemulihan utang tersebut dilaksanakan dengan menggandeng pemegang saham Asian Resourches Minerals (ARMS) Plc, anak perusahaan Sinarmas Group yang berbasis di Inggris.

"Restrukturisasi akan dibantu Argyle pemegang saham ARMS sebesar 5 persen yang berada di Hong Kong. Mereka akan membantu penyelesaian utang Berau," kata Fuganto ketika menghadiri rapat umum pemegang saham luar biasa di Jakarta, Rabu (19/8).

Seperti diketahui, BRAU sebelumnya dinyatakan gagal bayar utang US$450 juta atau sekitar Rp6 triliun. Utang obligasi tersebut diterbitkan anak usahanya di Singapura dan jatuh tempo pada 8 Juli 2015. Obligasi berkupon 12,5% itu diterbitkan oleh Berau Resources Pte Ltd dan dijamin oleh Berau Coal.

Sebanyak 74,7 persen pemegang saham Asia Resources Minerals Plc (ARMS) menerima penawaran saham yang diajukan Grup Sinar Mas melalui Asia Coal Energu Ventures Ltd (ACE). Selanjutnya, Sinar Mas menjanjikan restrukturisasi utang mulai Agustus tahun ini. Berdasarkan rencana, penyelesaian (settlement) penawaran pembelian saham Asia Resources telah dilakukan pada 15 Juli 2015 lalu.

Kendati demikian, Fuganto mengatakan Berau tetap memiliki sumber dana untuk restrukturisasi utang dan penjamin obligasi. Berau, menurutnya, kini masih berfokus agar perusahaan yang sahamnya masih di-suspend OJK.

Fuganto sudah meminta OJK untuk mempertibngkan pencabutan status suspend perusahaan tambang batu bara tersebut. Pihaknya juga telah berdiskusi secara intensif dengan OJK terkait hal itu. "Kita kerjasama dengan OJK untuk coba meng-unsuspend," kata dia.

Perusahaan tersebut, kata Fuganto, harus terkena sanksi suspend karena keterlambatan penyampaian laporan tahunan, akibatnya kinerja tahunan belum terpublikasikan. Dia berjanji bahwa perusahaan untuk segera melakukan recovery dengan merestrukturisasi utang.

"Target saya, Berau bisa recover secepatnya, bisa dengan powerplant sinarmas. Tentunya semoga bisa kita tungguin pemerintah bikin powerplantnya banyak, supaya berau menjadi pemasok batu bara yang besar ," kata dia.

Sementara itu, skema penyelesaian utang kepada Argyle, belum diputuskan. "Skemanya belum tau karena sedang ada auditor untuk melihat proyeksi lima tahun ke depan, untuk melihat kinerja keuangan dan kemampuan membayar utang kita," ujar Mantan Direktur Utama PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), anak perusahaan Sinarmas.

Dia mengatakan, BRAU masih membukan opsi opsi penyelesaian utang perseroan lainnya baik dengan penerbitan obligasi baru maupun pinjaman perbankan. "Belum ada mau loan bank atau bond atau kas internal, masih cari informasi untuk proyeksi," ujar Fuganto.

"Proposal restrukturisasi dari bond dan kas, memang waktu dulu itu planning-nya begitu. Tapi kalau masih bisa dan disetujui, ada syratnya persetujuan dari bond holders, baru bisa dilakukan. Yang penting sustainable. Jangan diulang-ulang restrukturisasinya. Harus dicari tahu dulu kinetrja keuangan dan operasional," pungkas Fuganto.

Proses penyelesaian utangnya di Singapura diperkirakan rampung pada awal tahun depan. "Semoga sebelum Januari tahun depan restrukturisasinya beres, ada jangka waktu 6 bulan untuk proses," kata dia.

Pergantian direksi

Pada kesempatan yang sama, BRAU baru saja megumumkan akuisisi dari Grup Sinarmas bersama pemegang saham. Pada Rapat Umum Pemegang Saham juga disepakati pergantian Direksi BRAU.

Direktur Utama BRAU yang baru Fuganto Widjaja menggantikan jabatan yang sebelumnya diduduki Amir Sambodo. Fuganto menyatakan BRAU di bawah kepemimpinannya akan menerapkan prinsip pengembangan secara good mining practice.

"Good mining practice atau kaidah penambangan yang benar, memiliki nilai jauh lebih berarti tidak hanya sekedar berupa besaran angka produksi. Hal ini bukan saja jadi tuntutan pemilik tambang, namun sudah menjadi kebijakan tegas pemerintah dalam mengelola industri tambang," kata Fuganto.

BRAU merupakan pemegang tidak langsung 90 persen saham perusahaan yang bergerak di bidang usaha pertambangan batubara. Maupun merupakan pemegang konsesi seluas 118.400 hektar di Kalimantan Timur.

Selain itu, BRAU juga merupakan anak usaha dari Vallar Investments UK Limited, yang sahamnya dimiliki tidak langsung oleh Asia Resource Minerals Plc (ARMS). Susunan pemegang saham BRAU terdiri dari 84,74 persen Vallar Investments UK Limited, dan sisanya sebesar 15,26 persen dimiliki oleh masyarakat. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya