Ekonom yang berasal dari Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono memprediksi kondisi ekonomi Tanah Air akan semakin suram. Menurutnya dorongan fiskal menjadi satu-satunya penyelamat ekonomi 2016 mendatang.
"Iya, itu satu-satunya cara. Seperti AS 2008, subprime. Belanja pemerintah," ungkapnya saat ditemui usai rapat koordinasi di Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (19/8).
Bedanya, lanjut Tony, Amerika Serikat mendapat utang 9% dari pasar karena pasar percaya.
Sementara Indonesia yang hanya memiliki defisit transaksi berjalan 3% memberi persepsi negatif sekali untuk pasar. Dia melihat pemicu pertumbuhan ekonomi memang harus dari fiskal agar konsumsi bisa kembali terdorong sejak harga komoditas jatuh.
Seperti di Sulawesi, konsumsi tidak lagi diharapkan dari penjualan komoditas tapi dari peralihan pekerjaan yang berkaitan dengan infrastruktur salah satunya pembangunan jalan. Tantangan pun semakin nyata dengan kondisi devaluasi mata uang Yuan agar daya saing Tiongkok bisa diperbaiki.
Jika memang Tiongkok mendapat stabilisasi maka Jepang atau negara-negara Eropa akan berusaha menguatkan diri dengan risiko yang sama. "Kalau dilihat semua sentimennya, dihitung neracanya, masih masalah. Devaluasi Yuan terus akan ada perang kurs, nanti kan arahnya perang kurs, yang lain juga nurunin," imbuh Tony.
Indonesia sendiri tidak bisa ikut menurunkan nilai tukar rupiah karena memiliki beban utang. Jika memang tidak ada beban utang, Tony merasa kurs rupiah sampai level Rp15 ribu pun bukan masalah.
"Kalau sekarang bisa tobat itu korporasi-korporasi," tambahnya. Posisi devaluasi Yuan pun dipandang Tony sudah terlalu rendah untuk ukuran negara sekuat Tiongkok.
Meski sudah diprotes oleh Amerika Serikat, Tiongkok terganggu oleh upah buruh yang naik dan harga tanah di pantai Timur yang mahal sehingga daya saing turun. Satu-satunya cara dengan membabi buta Tiongkok mesti devaluasi Yuan.
"Itu juga gelap mata dan nervous dengan daya saing turun," paparnya. Investasi Tiongkok juga diisukan turun beralih ke Vietnam dan harapannya datang juga ke Tanah Air.
Oleh sebab itu devaluasi juga ditujukan agar investasi tidak pegi. Dengan devaluasi Yuan ini juga Tony ragu normalisasi The Fed Rate akan dilakukan tahun ini.
"Sejak awal tahun saya ragu The Fed mau naik kalau kemarin kan menunda, dugaan saya sekarang kok enggak jadi," ucapnya. Selain itu Yunani juga masih diwaspadai karena sewaktu-waktu utang bisa kembali meledak dan jatuh tempo.
Masalah lain datang pula dari harga minyak yang kembali merosot. Kendati Indonesia mendapat surplus neraca perdagangan, menurut Tony bukan surplus yang positif karena kuantitatif surplus, kualitas jelek, impor turun, barang modal turun, investasi turun, dan daya beli turun.
"Memang ada tambahan masalah. Harga minyak turun ke US$41 per barel. Shale gas dan oil di bawah US$20 per barel. Murah sekali," lanjutnya. Dalam jangka pendek penurunan harga minyak bisa memberi rasa senang sesaat untuk masyarakat.
Namun jika harga minyak rendah ini berlangsung agak lama bisa menimbulkan dampak lanjutan. Salah satunya menyeret harga komoditas primer mulai batubara atau kelapa sawit ke level paling anjlok.
"Saya lihat ini akan lama, jadi boro-boro kembali ke US$70, naik ke US$50 saja susah. Ya kita menunggu dulu," tuturnya. Tony melihat bisa saja harga minyak turun tidak terlalu elastis dengan harga komoditas lain. (Q-1)