Perlambatan ekonomi yang terjadi sekarang ini berimbas pada segala sektor, termasuk industri keuangan. Beberapa bank umum di Bali mengaku mengalami penurunan dari sisi dana pihak ketiga (DPK).
Kepala PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Kantor Cabang Utama Denpasar Lie Hendra Sutanto, saat ditemui di Denpasar, mengatakan lesunya ekonomi ditambah dengan melemahnya rupiah menyebabkan gejolak bisnis di industri keuangan.
“Dari awal tahun ini hingga sekarang DPK kami sekitar Rp10 triliun. Target kami minimal dalam setahun harus naik sekitar 20%, tapi kondisi sekarang memang turun. Pada 2014 DPK kami hampir Rp10 triliun tapi sekarang turun 2,9% atau sekitar Rp300 miliar. Hampir seluruh bank umum mengalami hal yang sama,†ujarnya.
Dia menambahkan hal tersebut disebabkan semua pengusaha sedang menahan diri serta wait and see. Pihaknya pun menargetkan hingga akhir 2015 DPK bisa tumbuh hingga 20%.
“Pengaruh utama memang dari lesunya perekonomian sekarang. Apabila ekonomi bagus, otomatis jumlah uang yang berputar besar dan bank akan menyerap dana-dana pihak ketiga. Jika ekonominya turun, tidak ada dana yang diserap oleh perbankan dari masyarakat,†tuturnya.
Meski demikian, lanjutnya, pihaknya masih bersyukur perekonomian Bali masih tumbuh dengan adanya kehidupan pariwisata dengan jumlah kunjungan wisatawan yang cukup banyak ke Bali. Pihaknya yakin wisatawan yang berkunjung ke Bali akan melakukan pengeluaran cukup besar dan nantinya uang tersebut akan masuk ke perbankan melalui deposito atau lainnya.
Vice President PT BNI (Persero) Tbk Kantor Wilayah Denpasar Aryanto Purwadi mengungkapkan sejak awal 2015 hingga Juni 2015 lalu, DPK BNI sendiri di Bali belum mencapai posisi yang diharapkan.
“Jadi menurun terus, meskipun sekarang ini sudah mulai berkurang penurunannya. Kami menduga DPK di Bali lari ke BPR dibandingkan bank umum karena imbas dari tingkat suku bunga BPR mencapai 10,5% sementara suku bunga bank umum sesuai dengan LPS hanya 7,5% saja,†jelasnya.
Dia menyatakan DPK BNI masih ratusan miliar yang belum tercapai tahun ini dan fenomena ini memang terjadi di seluruh Indonesia. Sementara itu, Direktur Utama PT BPR Pancakanti Made Arya Amitaba mengatakan bahwa tingginya suku bunga BPR memang memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat Bali.
“Sebenarnya BPR menyasar masyarakat mikro, jadi fenomena lintah darat dan rentenir lah yang menjadi tujuan tingginya suku bunga BPR dibandingkan bank umum, mengingat banyak masyarakat mikro yang tertarik dengan suku bunga tinggi,†paparnya.
Dia mengungkapkan DPK BPR Pancakanti sendiri mulai awal 2015 telah tumbuh mencapai 14% dengan total aset Rp229 miliar hingga Juni 2015. Aset ini telah bertumbuh hingga 7% selama 6 bulan dan pihaknya yakin akan kembali tumbuh hingga 30% di akhir 2015 nanti.
Kepala Divisi Pengawasan Bank I OJK Bali Slamet Wibowo mengatakan masyarakat Bali memang tertarik dengan pemberian suku bunga tinggi. Oleh karena itu lebih banyak yang memanfaatkan BPR daripada bank umum.
“Hal tersebut yang mempengaruhi tumbuhnya DPK BPR yang kami lihat secara umum, yang artinya juga kepercayaan masyarakat terhadap BPR cukup tinggi,†ujarnya.
Dia pun menghimbau agar bank umum tidak perlu khawatir, karena pada dasarnya BPR menyasar ekonomi mikro dan masyarakat bawah sehingga segmentasi pasarnya sebenarnya sudah cukup jelas. (Q-1)