DI tengah Rasio Pembiayaan bermasalah (NPF) industri perbankan syariah yang melemah, PT Jaminan Pembiayaan Askrindo Syariah menargetkan total penjaminan hingga akhir tahun akan mencapai Rp11 triliun. Target ini naik sekitar 200% dari total penjaminan tahun lalu.
"Kita optimis dapat mencapai total penjaminan Rp11 triliun," ujar Direktur Utama Askrindo Syariah Pribadi usai penandatanganan nota kesepahaman kerjasama penjaminan pembiayaan dengan PT Al Ijarah Indonesia Finance (ALIF), Selasa (18/8).
Perusahaan penjaminan pembiayaan tersebut bergerak di tiga produk utama, yakni Kafalah pembiayaan, Kafalah transaksi perdagangan dan surety bond. Dari ketiganya, Askrindo Syariah telah mengembangkan hingga lebih dari 50 produk.
Dari ketiga produk tersebut, bidang pembiayaan merupakan penyumbang penjaminan terbesar. Hingga saat ini, 80% penjaminan berasal dari pembiayaan, yang terkecil adalah bidang surety bond sekitar 5%, dan sisanya dari perdagangan.
Hingga saat ini, total penjaminan melalui Askrindo Syariah telah hampir mencapai 50% dari target akhir tahun.
"Untuk pengelolaan penjaminan sampai dengan saat ini kurang lebih Rp5 triliun," ungkap Direktur Keuangan Askrindo Syariah Muhammad Efendi Nasution.
Dengan sisa waktu kurang dari lima bulan lagi, perusahaan tersebut yakin dapat mencapai total penjaminan pembiayaan yang telah ditargetkan.
"Insyaallah sampai akhir tahun kita dapat mengelola hingga Rp8 triliun. Tapi tidak menutup kemungkinan karena kapasitas yang cukup besar yang kita punyai, kita tetap targetkan hingga Rp11 triliun," kata Direktur Operasional Askrindo Syariah Meivyta Husman.
Untuk mencapai target tersebut, Askrindo Syariah akan terus mengembangkan kerjasama dengan perusahaan perbankan, pembiayaan, dan lainnya. Hingga akhir tahun ini, akan ditambah 6 mitra lagi yang terdiri dari 3 perbankan, 1 BMT dan 2 koperasi syariah.
"Target kita penempatan hingga akhir tahun, di non bank sekitar 20%. Sedangkan di perbankan 80%," jelas Meivita.
Adapun dari bisnis penjaminan tersebut, indikator loss ratio Askrindo Syariah saat ini hanya 10%.
"Kalau kita lihat indistri asuransi lain bisa mencapai 20-30%. Saat ini kita Alhamdulillah maintain 10%," tukasnya. (Q-1)