Neraca Perdagangan Indonesia Kembali Surplus

Tesa Oktiana Surbakti
18/8/2015 00:00
 Neraca Perdagangan Indonesia Kembali Surplus
( ANTARA/Fanny Octavianus)
NERACA perdagangan Indonesia pada Juli 2015 kembali mengalami surplus US$1,33 miliar. Hal itu dipicu oleh surplus sektor nonmigas US$2,2 miliar, meskipun sektor migas defisit US$0,87 miliar. Pun dari akumulasi neraca perdagangan sepanjang Januari-Juli 2015 juga tercatat surplus sebesar US$5,73 miliar.

“Ini (neraca perdagangan Juli) merupakan surplus terbesar dalam 19 bulan terakhir. Bisa dibilang memecahkan rekor,” ujar Deputi Bidang Statistik Produksi Adi Lumaksono berapi-api dalam konferensi pers di kantor BPS, Selasa (18/8).

Sedangkan nilai ekspor pada periode Juli 2015 tercatat US$11,41 miliar atau mengalami penurunan sebesar 15,53% dibandingkan ekspor bulan sebelumnya. Penurunan ekspor Juli dikontribusikan turunnya ekspor migas sebesar 1,26% menjadi US$1,42 miliar, serta ekspor non migas turun 17,23% menjadi US$9,98 miliar. “Ekspor migas dipengaruhi turunnya harga minyak dunia. Untuk penurunan ekspor non migas sendiri cukup dipengaruhi penurunan ekspor lemak dan minyak hewan nabati,” urai dia.

Penurunan ekspor komoditas kemudian disusul mesin atau peralatan listrik, perhiasan atau permata, kendaraan dan bagiannya dan alas kaki. Komdoti yang mengalami peningkatan ialah bijih, kerak dan abu logam.

“Setelah perusahaan pertambangan banyak yang membuat smelter, ekspor bijih, kerak dan abu logam ikut meningkat,” tukasnya.

Berbicara negara tujuan utama ekspor non migas masih ditempati Amerika Serikat, Tiongkok dan Jepang dengan peranan keseluruhan mencapai 32,48%. Secara akumulatif nilai ekspor Januari-Juli 2015 mencapai US$89,76 miliar atau turun 12,81% bila dibandingkan periode sama tahun lalu.

Tidak hanya ekspor, nilai impor Juli juga mengalami penurunan 22,36% dibandingkan bulan sebelumnya, yakni US$10,08 miliar. Penurunan impor periode Juli dipengaruhi penurunan nilai impor migas 10,99% dengan nilai US$2,83 miliar dan impor non migas turun 25,18% dengan nilai US$6,19 miliar.

Sementara itu, akumulatif nilai impor periode Januari-Juli 2015 sebesar US$7,78 miliar atau turun 19,23% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Kendati nilai impor Juli 2015 tercatat menurun, namun ada beberapa komoditas di sektor non migas yang mengalami kenaikan. Sebut saja golongan perhiasan dan permata sebesar US$2,01 miliar atau naik signifikan hingga 3.298% dibandingkan bulan sebelumnya. Disusul golongan kapal terbang dan bagiannya US$9,94 miliar atau naik 160%.

“Meski ada tren batu akik di tengah masyarakat namun nyatanya ada jenis batu mulia yang Indonesia tidak punya sehingga masih diimpor,” tukasnya.

Sementara itu, komoditi yang nilai impornya menurun seperti golongan mesin dan peralatan mekanik sebesar 23,61% dengan nilai US$4,69 miiar. Kemudian dilanjutkan plastik dan besi baja.

“Selama masih bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri, pemeritah sangat mendorong pengurangan impor ya, apalagi menyangkut komoditas strategis,” kata pria berkacamata tersebut.

Terkait negara asal, untuk kawasan ASEAN, Singapura, Thailand dan Malaysia merupakan tiga negara utama pengimpor ke Indonesia. Sementara dari kawasan Uni Eropa diduduki oleh Jerman, Belanda dan Italia. Tiongkok dan Jepang pun masih memegang peranan besar untuk mengimpor sejumlah komoditas termasuk bahan baku dan penolong.

BPS dikatakannya menilai turunnya nilai ekspor impor kerat kaitannya dengan situasi perekonomian global. Di antaranya nilai tukar rupiah yang kian tergerus dengan mata uang asing, khususnya dollar Amerika Serikat. Selanjutnya, penurunan harga beberapa komoditas praktis berkontribusi besar terhadap flow ekspor dan impor.
“Tapi kita patut bersyukur penurunan ekspor lebih lamban daripada penurunan impor. Dengan demikian surplus perdagangan negara kita tetap meningkat. Harapannya akan seperti itu seterusnya,” tutup dia.(Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya