Pengamat: Penyerapan APBN Rendah, Nilai Tukar Rupiah Melemah
Ilham Wibowo
14/8/2015 00:00
(ANTARA/Rivan Awal Lingga)
Pengamat ekonomi I Kadek Dian Sutrisna Artha mengatakan pada semester pertama penyerapan APBN masih terbatas membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin melemah. Pada saat perekonominan yang lesu injeksi pemerintah diandalkan di dalam perekonomian.
"Faktor domestik, investor masih menanti realisasi anggaran pemerintah. Sampai semester pertama ini penyerapan APBN masih sangat terbatas bahkan lebih rendah dibandingkan tahun lalu dan ini menjadi konsen karena penyerapan anggaran itu menentukan bagaimana perekonomian ini bergerak, sebab pada saat perekonominan lesu ini yang diandalkan adalah injeksi pemerintah di dalam perekonomian," tutur Kadek, Jumat (14/8).
Pelemahan nilai tukar rupiah juga karena kombinasi dengan faktor luar. Kadek mengatakan faktor paling utama adalah devaluasi mata uang Yuan yang dilakukan Bank China.
"Faktor luar yang paling utama kita tahu bahwa Bank China melakukan devaluasi terhadap Yuan secara signifikan dan itu berpengaruh juga terhadap mata uang negara lainnya tidak hanya Indonesia, seperti Malaysia dan Jepang. Ini merupakan strategi untuk mendongkrak produk ekspor (China) agar lebih tinggi," jelasnya.
Sebelumnya diberitakan, pergerakan nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengatakan rupiah melemah rata-rata 2,47 persen (quarter to quarter) ke Rp13.721 per dolar AS di kwartal I-2015 dari Rp12.807 per dolar AS pada kwartal sebelumnya.
Agus menjelaskan pelemahan ini dipicu kekhawatiran berlanjutnya penguatan dolar AS. Perkembangan data terkini negeri Paman Sam tersebut menyebutkan data tenaga kerja menunjukkan angka yang positif sehingga mengindikasikan kenaikan suku bunga AS (fed fund rate) akan naik lebih cepat dari perkiraan.
Depresiasi mata uang Garuda juga dipicu oleh devaluasi mata uang Tiongkok yuan di tengah rencana kenaikan suku bunga AS. Pemerintah Tiongkok mengambil kebijakan pada 11 Agustus lalu untuk mendevaluasi mata uangnya sebesar 1,9 persen dan dilanjutkan 1,6 persen pada hari berikutnya.
"Karena kondisi di Tiongkok terjadi pelemahan kinerja ekspor, adanya capital outflow dan turunnya cadangan devisa maka mereka mendevaluasikan yuan. Itu berdampak negatif terhadap mayoritas mata uang negara lain termasuk RI," kata Agus, di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (13/8).
Namun, meski demikian pelemahan rupiah masih lebih naik jika dibanding dengan pelemahan mata uang lainnya yakni Ringgit Malaysia yang terdepresiasi 13,16 persen, Lira Turki yang terdepresiasi 16,32 persen, Real Brasil yang terdepresiasi 29,4 persen, dan dolar Australia 10,6 persen. (Q-1)