Industri Tekstil dan Produk Tekstil harus Ganti Paradigma
Dero Iqbal Mahendra
10/8/2015 00:00
()
Direktur Jendral Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian Harjanto mengingatkan bahwa kedepannya Indutsri tekstil dan produk tekstil harus mengganti paradigma mereka bila masih ingin terus berkembang dan bersaing dalam era pasar bebas nantinya.
Harjanto menjelaskan meski saat ini Industri tekstil masih mengalami surplus non migas sebesar US$4,17 miliar untuk produk tekstil namun angka tersebut sejatinya masih menunjukkan kerarah penurunan. Hal tersebut dikarenakan Indonesia pernah mengalami surplus hingga US$5 miliar dari produk tekstil.
"Perlahan tetapi pasti itu terlihat trend menurun, seperti pertumbuhan industri nasional yang juga menurun. Padahal Industri tekstil sendiri menyerap tenaga kerja sekitar 2,8 juta orang," terang Harjanto di Jakarta, Senin (10/8).
Industri tekstil, alas kaki dan aneka menurut dirinya masuk kedalam jenis industri yang menyerap tenaga kerja besar namun posisinya tidak stabil karena sangat dipengaruhi oleh harga dan kemampuan dari SDM suatu negara. Bila ada negara yang menawarkan SDM yang lebih murah dan efisien maka modal tersebut akan sangat mudah berpindah.
Industri tekstil Indonesia kedepannya tidak bisa hanya mempertahankan pola yang ada sekarang ini. Saat ini industri tekstil dan garment Indonesia lebih kepada pengerjakan produk orang didalam negeri, meski secara jumlah dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja namun untuk jangka panjang Indonesia tidak bisa bertahan hanya dengan kondisi seperti itu.
"Untuk itu perlu perubahan strategi pengembangan industri tekstil dan alas kaki untuk diarahkan lebih kepada membangun nilai tambah yang dalam hal ini meningkatkan inovasi dan modernisasi dari industri itu sendiri. Industri tekstil dan produk tekstil harus berorientasi kepada industri kreatif untuk keberlangsungan industri tekstil. Bentuknya bisa sebagai pusat desain atau bahkan memiliki national brand sendir," ungkap Harjanto.
Selama ini Indonesia hanya mendapat keuntungan dari ongkos produksi padahal 80% value dari produk tersebut dikuasai oleh pemilik branding. Meski begitu Harjanto mengakui bahwa membangun branding tidak bisa dalam waktu singkat dan perlu upaya secara terus menerus secara konsisten dan berkesinambungan.
"Misalnya saja memanfaatkan komodo sebagai icon branding Indonesia. Caranya dengan membuka outlet-outlet permanen di bandara-bandara internasional dengan branding komodo agar produk Indonesia dikenal lebih jauh lagi. Selama ini persoalannya produk Indonesia yang selama ini di pamerkan di luar negeri brandingnya tidak dikenal secara luas di masyarakat internasional, nantinya dengan pola seperti itu diharapkan akan dapat mengenalkan baranding Indonesia lebih baik lagi secara berkesinambungan," pungkas Harjanto.(Q-1)