Guna meningkatkan kinerja dan kapasitas produksi perusahaan, PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP), anak usaha dari April Asia Group, tengah membangun pabrik baru yang saat ini sudah memasuki tahap konstruksi dan ditargetkan siap beroperasi pada September 2016.
Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Direktur PT RAPP Tony Wenas kepada Media Indonesia, di Jakarta, Kamis (6/7).
Tony mengatakan, dengan tambahan pabrik baru tersebut, dapat menambah jumlah kapasitas produksi sebesar 250 ribu ton kertas. "Jadi total produksi kami mencapai 1,07 juta ton kertas, dari jumlah kapasitas produksi sekarang yang sebesar 820 ribu ton, ditambah dengan 250 ribu ton tersebut."
Selain itu, diapun mengaku, pabrik dengan investasi Rp4 triliun ini tengah mengajukan permohonan untuk mendapatkan fasilitas tax holiday atau tax amnesti dari pemerintah. "Kami sedang mengupayakan itu, inginnya mendapat tax holiday. Saat ini kami sudah mengajukan ke Kementerian Perindustrian, tinggal menunggu kabar selanjutnya saja," pungkas Tony.
Nantinya, pabrik yang bernama Paper Mild III dan dibangun di atas lahan seluas 5 ha tersebut akan memproduksi kertas jenis baru dan yang pertama di Indonesia, yang bernama High Grade Digital Paper.
Tony menjelaskan, jenis kertas ini adalah kertas dengan kualitas unggul yang membuat cetakan gambar lebih nyata. Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi kertas baru tersebut semuanya berasal dari dalam negeri.
"Pabriknya berlokasi di Pangkalan Kerinci Riau, masih satu kompleks dengan dua pabrik lama. Tentunya, pabrik baru ini dapat memberikan nilai tambah yang signifikan terhadap hasil produksi perusahaan," tutur Tony.
Hasil produksi dari pabrik tersebut, sebagian besar akan disumbangkan untuk peningkatan ekspor Indonesia, dengan porsi 60%-70% ekspor dan 30% domestik, serta penambahan 10 negara baru tujuan ekspor. "Saat ini kami sudah ekspor ke 75 negara, dan menargetkan peningkatan menjadi 85 negara," tambahnya.
Di samping itu, dengan adanya pabrik baru ini, diperkirakan dapat menaikkan nilai ekspor menjadi Rp30 triliun-Rp35 triliun.
"Ke depannya, kami mungkin akan melakukan downstream usaha lagi, tapi untuk sekarang belum bisa dijelaskan dan diberitahukan detilnya seperti apa," tutup Tony. (Q-1)