Ekonomi Melambat, Pertamina Ubah Target Penjualan BBM

Jessica Sihite
05/8/2015 00:00
 Ekonomi Melambat, Pertamina Ubah Target Penjualan BBM
(MI/Ramdani)
PT Pertamina (persero) mengubah target penjualan bahan bakar minyak (BBM) hingga akhir tahun. Perseroan memprediksi penjualan seluruh jenis BBM hanya mencapai 95% dari target yang sebesar 65,8 juta kiloliter (KL).

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan pihaknya paling akan mengejar volume realisasi penjualan BBM sedikit di atas realisasi tahun lalu, yakni di atas 62,39 juta KL. BBM jenis premium yang diprediksinya akan mengalami penurunan konsumsi atau stagnan seperti realisasi tahun lalu di kisaran 29 juta KL. Sementara solar ditargetkan perseroan akan tetap sesuai target volume di APBN-P 2015, yakni 17,5 juta KL.

"Target konsumsi BBM 2015 sebesar 65,8 juta KL. Premium sendiri targetnya 32 juta KL. Namun, perkiraan akhir tahun diturunkan targetnya. Jadi BBM seluruhnya hanya 95% dari target," ujar Bambang di Jakarta, Rabu (5/8).

Bambang mencetuskan revisi target itu karena Pertamina terkena imbas dari perlambatan ekonomi. Perlambatan ekonomi itu terlihat dari melambatnya sektor industri dan lemahnya daya beli masyarakat. Di samping itu, Bambang mengatakan semakin hari semakin banyak industri yang beralih menggunakan gas ketimbang bensin lantaran harganya lebih murah.

Meski semester II pemerintah akan menggenjot pembangunan infrastruktur dan penyerapan anggaran akan terjadi signifikat, Bambang tetap pesimistis penjualan BBM akan naik di tahun ini. Padahal, ia mencatat setiap tahunnya, penjualan BBM mengalami kenaikan 4%-5%.

"Dengan ekonomi melemah, pertumbuhan penjualan mobil berkurang. Masyarakat juga mikir mau pergi-pergi. Akhirnya konsumsi menurun. Ini juga tinggal lima bulan," tuturnya.

Seiring kebutuhan BBM yang menurun sepanjang semester I tahun ini, impor BBM pun jadi diturunkan. Dari semua jenis BBM, impor solar yang porsinya lebih diturunkan.

Bambang menandaskan hingga pertengahan tahun ini, impor solar hanya sebanyak 500 ribu KL atau turun hampir 50% ketimbang periode yang sama tahun lalu. "Impor premium juga turun. Dulu 9 juta - 10 juta KL, sekarang tinggal 7 juta - 8 juta KL. Itu karena konsumsi turun," terangnya.

Terkait produk baru Pertamina, yakni pertalite, Bambang menargetkan hingga akhir tahun penjualan pertalite bisa menggeser konsumsi premium 20%-30% hingga akhir tahun. Hingga 4 Agustus lalu, rata-rata penjualan pertalite mencapai 4,5 KL. Dia merinci penjualan premium jadi turun 13,5% dan pertamax kurang dari 1% di SPBU yang menjual pertalite.

Target penggeseran konsumsi dari premium ke pertalite itu, imbuhnya, dipatok supaya kerugian perseroan di hilir semakin kecil. Hingga Juli 2015, total kerugian dari penjualan premium dan solar mencapai Rp12,6 triliun.

"Jujur saja kalau pertalite ini bisa mengurangi kerugian di premium. Paling tidak 500 SPBU siap untuk pertalite sampai akhir tahun. Saat ini sudah ada 115 SPBU yang jualan pertalite," tandasnya.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan laba bersih perseroan pada semester I tahun ini mencapai US$570 juta atau turun dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$1,13 miliar. Hal itu disebabkan oleh harga minyak dunia yang jatuh di bawah US$60 per barel dan kerugian di sektor hilir. Di sisi lain, rupiah terdepresiasi hingga lebih dari 10% dalam kurun waktu hingga Juni 2015.

Menurut formula yang telah ditetapkan Pertamina dan pemerintah, harga formula premium per 1 Agustus semestinya Rp8.300 per liter. Itu pun belum ditambah dengan PPN 10% dan PBBKB.

"Selama Maret hingga Juni sesuai dengan keputusan pemerintah, Pertamina tidak melakukan perubahan harga BBM. Akibatnya, terjadi opportunity loss yang tinggi," imbuhnya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya