Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan sebesar 4,67% dibanding periode yang sama tahun lalu atau tumbuh 3,78% dibandingkan kwartal I 2015 dengan produk domestik bruto tumbuh sebesar Rp 2.239,3 triliun berdasarkan harga konstan atau Rp 2.866,9 berdasarkan harga berlaku saat ini.
Angka ini lebih rendah ketimbang pertumbuhan kwartal I 2015 yakni 4,72% yoy dan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu yakni 5,03% yoy.
"Dari kwartal ke kwartal sejak tahun 2011 memang terjadi perlambatan. kwartal II 2015 tumbuh 3,78%qtq, sedikit di bawah 2014 3,83 %qtq," jelas kepala BPS Suryamin di Jakarta, Rabu (5/7).
Suryamin mengoreksi perhitungan pertumbuhan ekonomi kwartal I yang sebelumnya disebutkan sebesar 4,71% menjadi 4,72%. Meski mengalami kontraksi, bahkan bisa disebut resesi, Suryamin mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik ketimbang negara lain, terutama tiga mitra dagang terbesar Indonesia, yakni Amerika Serikat, Tiongkok dan Singapura.
"Amerika Serikat melemah dari 2,9% di kwartal I jadi 2,3%. Tiongkok stagnan di angka 7%, Singapura melemah 2,1% jadi 1,7 q2 Singapura dari 2,1% di kwartal I jadi 1,7 %. Inggris, Korea Selatan juga tidak lebih dari 3%. Artinya kepada negara kita akan ada imbasnya," tambah Suryamin.
Imbasnya tentu kepada ekspor dan impor. BPS mencatat pertumbuhan ekspor Indonesia pada kwartal II sebesar -0,13%. Padahal, ekspor merupakan penyumbang PDB terbesar ketiga setelah konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dengan andil 21,63%.
Impor terkoreksi lebih dalam lagi dengan pertumbuhan -6,85%. Akibatnya, impor malah menjadi variabel pengurang pada PDB dengan distribusi -21,41%. Perlambatan juga dialami oleh pengeluaran lembaga nonprofir sebesar -7,91%. Meski terbilang besar, sharenya terhadap PDB hanya 1,11%.
"Share terbesar masih pada konsumsi rumah tangga, kontribusinya 54,67%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga kwartal II tercatat 4,97% yoy, tahun lalu 5,14%. Qtq nya 1,11% qtq tahun lalu 1,14%. Artinya masih tumbuh stabil. Bahkan kontribusinya juga 55%," jelas Suryamin.
Pembentukan modal tetap bruto, investasi tumbuh 3,55% yoy. Suryamin menyebut angka ini mengalami penurunan dari tahun lalu 3,71%. "Melambat untuk bangunan tumbuh 4,82% tahun lalu 4,91%, mesin dan perlengkapan turun 5,56% tahun lalu hanya turun 5,07%. Ini karena impor barang modal tetap turun," katanya. (Q-1)