Rupiah Melemah bukan Tanda Krisis 1998 bakal Terulang
Al Abrar
04/8/2015 00:00
(ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Hingga penutupan pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan. Banyak yang berpandangan pelemahan tersebut sebagai awal munculnya krisis ekonomi seperti tahun 1998.
Namun hal tersebut dibantah oleh anggota Komisi V DPR RI Miryam S Haryani. Kata dia, meski kondisi rupiah saat ini tak diharapkan namun bukan berarti krisis akan kembali terulang.
"Penting untuk disampaikan kepada publik bahwa pada tahun 1998 nilai tukar rupiah merosot dari Rp2.000 per dolar menjadi Rp13.000 per dolar AS. Sedangkan sekarang, nilai tukar merosot dari Rp11.000 menjadi Rp13.000 per dolar AS," ujar Miryam melalui pesan singkat kepada wartawan di Jakarta, Selasa (4/8).
Karena itu, kata Miryam, sangat penting bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah strategis agar situasi ini cepat berlalu.
"Apabila hal ini tidak segera diatasi, maka akan banyak UKM yang terkena dampak serta berujung pada bertambahnya pengangguran akibat PHK korban dari UKM yang gulung tikar," tambah Ketua DPP Hanura ini.
Smentara itu, Wakil Ketua Fraksi Nasdem di DPR Johnny G Plate menyebut pelemahan rupiah diakibatkan oleh kebijakan Gubernur the Federal Reserve Bank Janet Yellen yang kemungkinannya akan menaikkan suku bunga dolar Amerika Serikat dalam waktu dekat.
"Kita harapkan agar belanja modal APBN pada semester kedua 2015 lebih dipercepat penyerapan anggaran agar lebih menstimulasi perekonomian domestik dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Dengan demikian daya beli masyarakat semakin lebih kuat," tambah dia. (Q-1)