PT Pelindo I menargetkan pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatra Utara, rampung pada akhir 2016 dan efektif beroperasi pada kuartal I 2017. Pelabuhan multipurpose yang diproyeksikan menjadi pelabuhan terbesar di Selat Malaka itu juga terkoneksi dengan kawasan industri.
“Progresnya sampai Agustus sekitar 15% di mana sudah pada tahap pemancangan tiang-tiang di laut. Akhir tahun 2015 kita harapkan progresnya mencapai 54%, jadi kita akan bilang ke Pak Jokowi pembangunan bisa dipercepat akhir tahun 2016 dan mulai beroperasi pada kuartal I 2017,†papar Direktur Utama PT Pelindo I Bambang Eka Cahyana kepada pewarta usai mengikuti rapat persiapan HUT RI di Gedung Kementerian BUMN, Senin (3/8).
Sebagaimana diketahui, perseroan turut menggandeng Port of Rotterdam International dalam pengembangan pelabuhan itu. Pada tahap awal 2015, perseroan mengalokasikan dana sekitar Rp4,9 triliun. Pun, ke depan, sambung dia, perusahaan asal Belanda tersebut juga berminat menjadi bagian dari manajemen Pelabuhan Kuala Tanjung berikut kawasan industri.
Bambang mengatakan nilai investasi yang dibutuhkan untuk membangun keseluruhan kawasan industri Kuala Tanjung dengan luas 1.500 hektare, mencapai Rp8 triliun yang mencakup pengadaan infrastruktur, seperti jalan, jaringan listrik dan kebutuhan penunjang lainnya. Untuk keseluruhan kawasan industri. Kompleks itu ditargetkan selesai tahun 2019.
“Karena pelabuhannya menyangkut industri, maka akan ada sejumlah perusahaan yang bergabung menjadi pemegang saham seperti Inalum, Wijaya Karya, juga Tasepen. Semen Indonesia dan Pupuk Indonesia juga mau bergabung, PTPN malah akan bikin refinery. Ada juga perusahaan asing di bidang pengolahan kelapa sawit yang akan memindahkan basisnya dari Malaysia ke kawasan industri Kuala Tanjung,†urai Bambang.
Lebih jauh dia mengungkapkan kawasan industri tersebut harus menjadi basis industri kimia dasar. Hal itu sejalan dengan program pemerintah yang ingin mengurangi ketergantungan bahan baku impor untuk kebutuhan industri dalam negeri. “Percuma kan kalau yang tumbuh di kawasan industri itu kebanyakan industri hulu saja, pasti bahan bakunya diambil dari impor,†tukas dia.
Oleh karena itu, pihaknya akan membidik negara di Timur Tengah untuk menginvestasikan industri berat, seperti processing kimia dan gas sebagai penyedia bahan baku. Ditanya bagaimana performa di semester I 2015, Bambang mengungkapkan laba perseroan mengalami pertumbuhan 5% yoy. Pihaknya menargetkan laba hingga akhir tahun sebesar Rp 605 miliar.
Adapun besaran pendapatan keseluruhan tahun ini ditargetkan mencapai Rp 2,3 triliun. Sedangkan, pendapatan semester I tahun 2015 sebesar Rp 1,1 triliun, tercatat naik dari tahun lalu pada periode sama, yakni Rp 983 miliar. “Kita tumbuh siginifikan dibandingkan tahun lalu kalau year on year, cuman kalau sumbangsih semester I pasti lebih rendah yaitu 35%, nanti baru di semester II performa bisa 65% dari total capaian target. Yang jelas kita optimistis target tercapai meski aktivitas pelabuhan turun,†tandasnya.(Q-1)