Bayar Utang, Kurs Rupiah Melemah

Irene Harty
31/7/2015 00:00
 Bayar Utang, Kurs Rupiah Melemah
(ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo menyebut kurs rupiah tertekan karena masuk batas pembayaran utang.

"Dalam negeri kan mau masuk akhir bulan biasanya permintaan dolar tinggi karena bayar utang dan kewajiban," sahutnya usai Shalat Jumat di Pelataran Masjid Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (31/7).

Kurs rupiah melemah juga ditengarai oleh perkembangan ekonomi global. Akan tetapi bila dibandingkan dengan negara emerging tingkat dunia dan tingkat regional, secara month to date Indonesia masih deperesiasi di level 1% ketimbang Brazil, Turki, Afrika Selatan di kisaran 2% sampai 3%.

"Tapi year to date memang rupiah terdepresiasi kisaran 8%, Brazil 25%, Turki 18%, Afrika Selatan juga kira-kira 8%. Ini akibat penguatan dolar Amerika Serikat," lanjut Agus. Dengan posisi REER di kisaran 97 ke atas, Bank Indonesia pun akan selalu ada di pasar untuk menjaga volatilitas rupiah tetap dalam batas sehat.

Posisi itu termasuk sedikit lemah dan paling tidak bisa menghadapi kemungkinan The Fed Fund Rate naik. Hasil FOMC mengkonfirmasi ekonomi Amerika Serikat hasilnya baik karena kuartal II mencapai 2,3%, sedikit lebih rendah proyeksi ketimbang kuartal sebelumnya.

Bank Indonesia memprediksi kenaikan Fed Rate akan di bulan September. "Dan ada yang bilang dua kali di September dan Desember itu masih dikaji lalu konsisten perbaikan ekonomi Amerika Serikat tapi masih butuh data," jelasnya.

Perkembangan ekonomi Tiongkok juga menjadi perhatian mengingat masih bergantungnya Indonesia pada ekspor komoditas. Bank Indonesia menyambut baik rencana pemerintah yang lebih mengandalkan produksi bernilai tambah ketimbang konsumsi.

"Tapi itu perlu waktu. Pertama kita harus konsisten dan kita perlu sinergi dan perlu meyakini kalau kita repson harus tepat waktu dan terukur," tutur Agus. Dengan demikian terjadi keseimbangan antara fiskal, moneter, dan sektor riil.

Bank Indonesia masih optimis semester kedua pertumbuhan ekonomi membaik. Hal itu karena realisasi belanja pemerintah mulai terlihat seperti tender Kementerian Pekerjaan Umum 100%.

Defisit transaksi berjalan tergolong baik dan kondisi perbankan yang sehat juga menjadi kekuatan bagi Indonesia. Tercatat meski ada kenaikan Non Performing Loan secara gross ke 2,6%, secara nett 1,4% masih baik tapi perlu diperhatikan.

Dana luar negeri pun masih terus mengalir. "Sampai minggu terakhir total dana masuk sampai Rp65 triliun, sedikit ada outflow dari pasar modal, tapi masih baik," pungkasnya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya