Indonesia-AS akan Kembangkan Teknologi Kelistrikan

Jessica Sihite
30/7/2015 00:00
 Indonesia-AS akan Kembangkan Teknologi Kelistrikan
(ANTARA FOTO/Umarul Faruq)
Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat dikabarkan akan menjalin kerja sama dalam pengembangan teknologi kelistrikan.

Negeri Paman Sam yang kini sedang melakukan penelitian di bidang teknologi kelistrikan itu akan dijadikan acuan bagi Indonesia.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Rida Mulyana mengatakan Indonesia belum memiliki teknologi yang bisa menstabilkan daya listrik dari pembangkit listrik berbahan energi baru terbarukan (EBT). Karena tidak stabilnya listrik, pemerintah dan PT PLN (persero) juga tidak berani mengambil risiko untuk menaruh bauran EBT lebih dari 20% dari total bauran energi untuk pembangkit listrik.

Padahal, saat ini pemerintah sedang mendorong EBT untuk lebih banyak di dalam porsi bauran energi. Hingga akhir 2014, kapasitas terpasang dari pembangkit listrik tenaga EBT sebesar 10.700 mw dari total kapasitas listrik nasional sebesar 53.585 mw.

Salah satu pembangkit yang listriknya tidak stabil ialah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Pembangkit berbahan sinar matahari itu bisa tidak stabil jika matahari secara tiba-tiba tertutup awan. Daya listrik yang dihasilkannya bisa tiba-tiba pula mengalami penurunan drastis.

"Jadi edikit banyak mengganggu efisiensi solar cell. Itu juga jadi penelitian di Amerika untuk menjaga kestabilan sistem listrik dari EBT," ujar Rida di kantornya, Jakarta, Kamis (30/7).

Demikian pula dengan pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB). Menurut Rida, sebenarnya hanya sedikit wilayah di Tanah Air yang berpotensi memiliki angin dengan besaran yang konsisten.

Ia mencontohkan PLTB Sidrap, Sulawesi Selatan yang akan dibangun Amerika Serikat. Kapasitas PLTB di pegunungan itu mencapai 70 megawatt (mw) dengan nilai investasi US$173 juta. "Lalu ada di Samas, Yogyakarta. Harga listrik yang dijual ke PLN US$13 sen per kWh," cetus Rida.

Kendati demikian, pemerintah tengah merevisi tarif jual-beli listrik dari pembangkit listrik tenaga EBT untuk menarik investasi di sektor tersebut.

Setelah merevisi tarif listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA), Kementerian ESDM akan meluncurkan tarif pembelian listrik dari PLTS untuk atap bangunan, PLTB, PLTBiogas, dan PLTPBiomasa. Semuanya akan diluncurkan Agustus dan September mendatang.

"Tujuannya biar investor cepat balik modal lalu bangun lagi. Tarifnya double digit sen dolar AS per kWh," imbuhnya. (Q-1)












Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya