Pendapatan BNI Naik, Laba Anjlok

Irene Harty
30/7/2015 00:00
 Pendapatan BNI Naik, Laba Anjlok
(FOTO ANTARA/Eric Ireng)
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat pertumbuhan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income) semester I 2015 sampai 14%, setara Rp12,3 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp10,8 triliun.

"Pertumbuhan didukung dari naiknya pendapatan bunga dari Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,8% dari Rp17,7 triliun," papar Direktur Utama BNI, Achmad Baiquni dalam konferensi pers di Wisma BNI, Jakarta, Kamis (29/7).

Dikatakan, biaya dana masih di level 3,2% lalu pertumbuhan pinjaman yang disalurkan mencapai 12,1% dengan total Rp288,7 triliun per Juni ini. Selain itu, cost of fund yang stabil juga mendorong kenaikan NIM dari 6% menjadi 6,5% atau di atas rata-rata industri perbankan yang hanya 5,3% tersebut.

Kendati demikian laba bersih BNI tercatat anjlok 50,8% menuju Rp2,4 triliun ketimbang semester pertama tahun lalu sebesar Rp4,9 triliun. Baiquni mengatakan hal itu dipengaruhi oleh kenaikan cadangan pinjaman bermasalah (coverage ratio/ckpn) di semester awal ini.

"Laba sebelum provisi masih tumbuh 9%, sekarang laba turun karena pembentukan ckpn, ckpn naik karena NPL (rasio kredit bermasalah) naik," tutur Baiquni.

Tercatat Non Performing Loan meningkat dari 2,2% menjadi 3% sampai semester satu ini yang mendorong kenaikan cadangan pinjaman bermasalah dari 129% menjadi 138,8%.

Kenaikan NPL dikatakan Baiquni sudah melalui proses pendalaman kondisi ekonomi global yang membawa perlambatan ke ekonomi nasional ditambah adanya pelemahan nilai tukar rupiah. Menurutnya kondisi itu memberatkan dunia usaha terutama debitur BNI.

"Kemudian kita dalami oh sepertinya kita harus konservatif akan terjadi kenaikan NPL, jadi cadangannya dinaikkan," sahutnya. Dia mengatakan kenaikan cadangan itu akan dipertahankan sepanjang tahun ini namun direncanakan akan naik dalam jangka waktu ke depan menuju 150%.

Hal itu melihat juga bank-bank pesaing dengan level yang sama sudah memiliki cadangan lebih dari 150%. Untuk masing-masing NPL, korporasi sampai semester awal 1,5%, naik dari tahun lalu 1,3% lalu sektor usaha menengah naik dari 2,7% ke 5,4%, usaha kecil naik dari 5,2% menjadi 6,8%, dan konsumer naik dari 1,5% ke 2%.

Kenaikan NPL kredit korporasi ditengarai oleh penurunan korporasi usaha bidang servicing company oil and gas. Harga minyaj yang turun drastis dalam satu tahun terakhir mendorong banyak perusahaan minyak renegosiasi yang menyebabkan perlunya bank merestrukturisasi.

Dengan adanya restrukturisasi lewat penambahan cadangan dan tim pengendali kredit bermasalah diharapkan sampai akhir tahun NPL bisa berada di bawah 3%.

"NPL akhir tahun tentunya kita berharap 3% itu NPL tertinggi. Lalu ada kebijakan relaksasi OJK lancar atau tidak dilihat dari tiga pilar prospek industri, kinerja keuangan, dan kemampuan membayar, kalau hitungan kasar NPL bisa turun 0,3% menjadi 2,7%," paparnya.

Ke depan target pertumbuhan laba sepanjang tahun pun diperkirakan akan mengalami penurunan 10%-15% ketimbang tahun lalu. Hal itu melihat prospek pertumbuhan kredit masih optimis karena belanja pemerintah mulai terealisasi.

Meski begitu proyeksi pertumbuhan kredit BNI berubah dari 15%-17% menjadi 12%-14% sepanjang 2015. Sektor yang mendorong pertumbuhan nantinya diprediksi dari sektor konstruksi dengan subsektornya usaha menengah dan kecil.

"Kita juga akan buka pusat layanan kredit di daerah-daerah yang potensinya besar. Kita berusaha dekat dengan calon-calon debitur," ungkap Baiquni.

Dana Pihak Ketiga BNI sendiri meningkat 4,2% dari Rp327,3 triliun ketimbang periode yang sama tahun lalu.

Komposisinya masih terdiri dari dana murah 63,2% naik dari 61,1% tahun lalu dan deposito yang turun 1,6%. Jumlah nasabah dikatakan juga meningkat 8,8% atau 1,2 juta rekening dengan total lebih dari 15 juta rekening.

Dengan demikian pendapatan fee base khususnya dari provisi dan komisi naik 13,5% sampai semester satu 2015 atau setara Rp2,7 triliun. Menurut Direktur Business Banking BNI, Heri Sidarta, penyaluran kredit akan lebih selektif.

"Termasuk energi, jalan tol, dan konstruksi. Kalau lihat portfolio terbesar di konstruksi, portfolio kita hampir 53% growthnya," jelas Heri.

Sejak Januari hingga Juni portfolio kredit sektor konstruksi bertambah Rp1,3 triliun, teansportasi Rp1 triliun, kelistrikan Rp1 triliun, lalu pabrik semen dan lain-lain mencapai Rp3 triliun. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya