Tingkat Optimisme Konsumen Indonesia Peringkat Tiga Dunia
Irwan Saputra
29/7/2015 00:00
(MI/PANCA SYURKANI)
MESKI keadaan perekonomian kian memburuk, namun tingkat optimisme konsumen di Indonesia masih sangat tinggi.
Dalam pemaparan hasil studinya (29/7), Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions menyatakan bahwa Indonesia berada pada peringkat tiga dunia.
Survei yang dilakukan Nielsen untuk mengukur keyakinan konsumen, kekhawatiran utama dan keinginan berbelanja pada lebih dari 30 ribu responden dengan akses Internet di 60 negara.
Secara global, negara-negara di Asia Pasifik berada di atas negara-negara di kawasan lainnya. Pada kuartal II, Indonesia berada di posisi tiga dengan skor indeks keyakinan konsumen sebesar 120. Nilai tersebut sebenarnya turun tiga poin dari kuartal I 2015. Sedangkan di atasnya ada India dengan 131 poin, dan Filipina dengan skor indeks 122 poin.
Dari kuartal sebelumnya, Filipina termasuk negara dengan peningkatan drastis, yakni sebanyak tujuh poin. Peningkatan tersebut dinilai dipicu oleh proses bisnis industri outsourcing yang kuat, kemajuan dalam sektor pembangunan dan tingkat pengeluaran konsumsi yang lebih tinggi.
Sedangkan negara yang mengalami penurunan drastis adalah Vietnam, hingga delapan poin ke posisi tujuh dunia. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, Vietnam mengalami Indeks Harga Konsumen negatif pada bulan Februari, dan investasi asing langsung turun lebih dari 20% di kwartal I dari tahun lalu.
Dari hasil survei tersebut, Direktur Utama The Nielsen Company Indonesia, Agus Nurudin memaparkan bahwa pandangan konsumen di Indonesia mengenai belanja masih positif. Pada kwartal II ini, 53% konsumen online mengindikasikan bahwa waktu 12 bulan kedepan merupakan waktu yang baik atau sangat baik untuk berbelanja. Angka tersebut menurun 3% dari kwartal sebelumnya.
“Optimisme konsumen pada kuartal kedua ini memang sedikit menurun, namun kami yakin mereka masih memiliki kepercayaan diri atau keyakinan yang tinggi untuk jangka panjang.†ujar Agus.
Namun, lanjut Agus, pada kwartal II ini, fokus kekhawatiran konsumen di Indonesia terhadap keadaan ekonomi meningkat menjadi 37%, dibandingkan dengan kwartal I sebesar 33%. Selanjutnya diikuti dengan kekhawatiran masyarakat terhadap masalah kesehatan dan juga mengenai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan yang juga meningkat.
"(Pertumbuhan ekonomi)kita turun dari 5% ke 4,7% aja, itu masyarakat merasakan sekali pengaruhnya. Jadi mereka sangat konsern, ini ekonomi kita akan membaik atau tidak?" ungkapnya.
Kekhawatiran tersebut, menurut Agus, membuat konsumen mengurangi tingkat konsumsi. Sebanyak 81% konsumen menyatakan telah mengubah pola berbelanja untuk menghemat pengeluaran rumah tangga. Dua pos pengurangan terbesar adalah pembelian barang teknologi sebesar 50% dan pembelian pakaian sebesar 48%. Kemudian pengeluaran konsumen untuk hiburan, liburan dan juga pemakaian energi juga dikurangi.
Agus mengungkapkan meningkatnya tingkat kekhawatiran konsumen dan berkurangnya tingkat konsumsi merupakan refleksi dari melemahnya perekonomian negara.
"Untuk kembali menaikkan tingkat confident, ya itu PR kita di Industri, di media untuk mengampanyekan sesuatu yang positif, PR government," tukasnya. (Q-1)