Perta Arun Gas akan Komersialkan Hub

Tesa Oktiana Surbakti
26/6/2015 00:00
 Perta Arun Gas akan Komersialkan Hub
(MI/Adam Dwi)
Menilik orientasi kinerja Terminal Penerimaan, Hub dan Regasifikasi LNG Arun yang berbasis pada hilirisasi, PT Perta Arun Gas akan menambah pemanfaatan dari fasilitas yang sebelumnya ditujukan mengolah gas bumi tersebut. Nantinya anak perusahaan PT Pertamina Gas (Pertagas) itu akan membuka bisnis hub atau storage (penyimpanan) bagi perusahaan lokal maupun asing yang over produksi gas namun minim penyimpanan.

Sejauh ini, PT Perta Arun Gas mengklaim terdapat empat tangki bekas Kilang LNG Arun yang berkondisi prima dan bisa dimanfaatkan. Dua diantaranya dialokasikan sebagai bagian dari pengolahan regasifikasi dengan kapasitas terpasang 405 mmscfd (million standard cubic feet per day). Adapun dua tangki sisanya memiliki kapasitas kurang lebih 250.000 m3.

Sebenarnya terdapat satu tangki lagi yang bisa dimanfaatkan, namun harus melalui proses repairing (perbaikan) terlebih dahulu. Mengingat repairing membutuhkan pendanaan yang besar, maka perseroan perlu meninjau potensi konsumen.

"Kalau yang berminat banyak, jumlah tangki sebagai hub bisa ditambah. Saat ini kami siapkan dulu fasilitasnya. Semisal peminat sedikit, tangki bisa dialokasikan untuk regas. Kita fleksibel saja," ujar Direktur Utama PT Perta Arun Gas Teuku Khaidir di area Terminal Regasifikasi Arun, Lhokseumawe, Aceh Utara, Kamis (25/6).

Dia memaparkan sistem penyimpanan gas seperti hub yang dimaksudkan sudah lama berkembang di Kanada dan Singapura. Sejauh ini, dari hasil pertemuan dengan beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan mengisyaratkan ingin menyimpan hasil produksi gas mereka di Arun.

Hanya saja, sambung Khaidir, belum ada kesepakatan hitam di atas putih. Secara garis besar, Khaidir menjelaskan sistem penyimpanan gas nantinya akan diubah ke dalam bentuk LNG. Sehingga saat pihak penyimpan membutuhkan pasokan, maka gas yang diambil berwujud LNG. Khaidir mengatakan sebaiknya penyimpanan LNG di hub tidak terlalu lama, batas maksimal dua bulan.

"Baiknya gas yang disimpan dalam hub jangan lama-lama. Karena di dalam LNG ada kandungan boil of gas. Lebih dari dua bulan, gas bisa habis," pungkas dia.

Khaidir mengklaim begitu fasilitas hub dapat direalisasikan, maka hub (gudang penyimpanan gas) Terminal Arun ialah yang pertama di Indonesia.

"Saya dengar akan menyusul di Bojonegoro. Memang bisnis gas kian menjanjikan di masa mendatang. Kita berharap awal tahun depan sudah bisa beroperasi," ucapnya optimistis.

Ditanyai ihwal persiapan fasilitas hub, dia mengungkapkan pihaknya tengah membuat future connection, termasuk memesan equipment (peralatan) pendukung. Mengingat, fasilitas terpasang di terminal Arun saat ini lebih berorientasi pada regasifikasi.

"Begitu muncul bisnis hub, tangki harus dipisahkan. Kalau dulu kan semua jadi satu. Nanti ketika hub beroperasi, maka pasokan LNG untuk regas dan penyimpanan harus dibagi jelas. Misal begitu kapal pengangkut LNG datang, maka pasokan diarahkan ke tangki 1 dan 3 saja," urai Khaidir.

Kendati demikian, PT Perta Arun Gas belum bisa memastikan berapa besaran tarif penyimpanan yang dikenan. Sebab, formulasinya masih dihitung. Yang jelas, kata Khaidir, tarifnya dalam parameter mmbtu (million british thermal unit) untuk jangka waktu tertentu. Disinggung berapa persen sumbangsih bisnis hub terhadap pendapatan (income) PT Perta Arun Gas ke depan, Khaidir enggan berucap lebih jauh. Namun dia optimistis bisnis hub memiliki prospek cerah.

Menurutnya hub merupakan open access, sehingga bisa dinikmati oleh siapapun, baik pemerintah atau perusahaan yang berada di negara lain. Untuk mekanisme perjanjian sewa hub, ungkap dia, akan diatur langsung oleh PT Pertagas Niaga, anak perusahaan dari PT Pertamina Gas (Pertagas).

"Di samping itu, kita juga mau kembangkan trucking (membawa pasokan) dari remote are. Jadi kita ambil LNG dari Meulaboh misalnya dengan truk atau small ship. Semoga sudah bisa jalan juga di tahun depan," imbuh dia.

Perihal target capaian laba di tahun ini, Khaidir mencoba bersikap realistis. Bila serapan PLN Belawan sebagai konsumen utama, terhadap gas hasil regasifikasi terus meningkat, ditargetkan laba bisa mencapai US$ 10 juta. Itu pun ikut didukung serapan dari industri serta Independent Power Producer (IPP) yang diproyeksikan bakal mengambil gas yang didistribusikan melalui jaringan pipa gas open access ruas Belawan-KIM-KEK Sei Mangkei.

Adapun capex (capital expenditure/belanja modal) tahun ini dianggarkan USD 118 juta, yang digunakan untuk pembangunan fasilitas regasifikasi unit dan perbaikan jeti (pipa penyalur pasokan yang sudah di unlog).

"Kami juga ingin melibatkan pemerintah daerah dalam pengelolaan terminal Arun. Tapi itu akan dibicarakan ke depan bagaimana bentuk kerja samanya," tandasnya.(Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya