Elpiji Diprediksi tidak Naik Hingga Tahun Depan

Jessica Sihite
24/6/2015 00:00
 Elpiji Diprediksi tidak Naik Hingga Tahun Depan
(ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi tidak akan ada penaikan harga elpiji, baik yang 3 kilogram (kg) dan 12 kg. Prediksi itu berangkat dari proyeksi Bank Dunia dan berbagai lembaga yang menyatakan tren harga penjualan Saudi Aramco hingga tahun depan akan tetap.

Hal itu diutarakan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi IGN Wiratmaja Puja di sela rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI. Ia bilang selain adanya proyeksi global tersebut, pihaknya juga mendorong PT Pertamina (persero) untuk membeli bahan baku elpiji secara langsung.

"Kalau beli langsung, diskonnya cukup besar. Jadi, prediksi tahun depan ga naik," ujar Wiratmaja di Jakarta, Rabu (24/6).

Pemerintah, kata dia, akan mengupayakan Pertamina untuk membeli bahan baku elpiji langsung ke National Oil Company (NOC) Irak, Arab Saudi, dan Qatar. Selama ini dilihatnya Pertamina masih membeli elpiji melalui trader. "Ga langsung b to b (businesa to business) dengan NOC-nya," cetusnya.

Hingga akhir tahun ini pun, baik elipiji 3 kg dan 12 kg diproyeksikannya tidak akan mengalami penaikan harga mengingat adanya efisiensi yang dilakukan Pertamina. Data dari Pertamina, penghematan yang sudah dilakukan perseroan hingga Mei tahun ini mencapai Rp2,23 triliun.

Wiratmaja mencetuskan harga rata-rata Saudi Aramco hingga tahun depan berada si kisaran US$480 per metrik ton (mt). Prediksi tidak adanya penaikan harga juga didasari oleh asumsi kurs rupiah terhadap dollar di kisaran 13.000-13.400.

"Kalau kurs rupiahnya berubah (melemah), kita ke Banggar dan Komisi XI lagi untuk revisi," tandasnya.

Kendati demikian, harga elpiji 12 kg per bulannya hingga tahun depan tidak bisa dipastikan akan selalu tetap. Pasalnya, produk itu menjadi kewenangan Pertamina untuk menaikan atau menurunkan harganya. Kalau produk elpiji 3 kg baru bisa diproyeksikan setiap bulannya akan tetap hingga tahun depan.

"12 kg kan kita ga halangin untuk naik. Tapi dari prediksi kita duduk bareng Pertamina pada 2016 averagenya ga naik. Kalau naik, naiknya datar, ga signifikan," pungkasnya.

Senada, Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang juga mengatakan ada kecenderungan harga bahan baku elpiji tidak akan naik, malah cenderung turun. "Karena kami sedang efisiensi dari Irak," tandasnya.

Disparitas Harga

Di tempat yang sama, Ketua Komisi VII Kardaya Warnika mendesak pemerintah untuk menyelesaikan disparitas harga elpiji tabung 3 kg dan tabung 12 kg. Dengan disparitas yang begitu besar hingga empat kali lipat, ia melihat hal itu yang membuat masyrakat sering bermigrasi ke tabung 3 kg.

"Adanya harga yang berbeda dengan barang yang sama. Itu tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi malah menimbulkan masalah," tukasnya.

Makanya, ia menyoroti permintaan pemerintah yang mau menambah volume elpiji subsidi dari 5,77 mt menjadi 6,602 mt di tahun depan.

"Saya minta masalah elpiji benar-benar dipikirkan. Kedepan elpiji ini di rumah tangga itu temporary. Semua negara enggak ada elpiji, pakai city gas. Nah untuk itu kayaknya kalo 6,602 ini asumsinya apa?" tanya Kardaya.

Menteri ESDM Sudirman Said menuturkan masalah disparitas harga elpiji tidak akan pernah terselesaikan. Makanya, ia mewacanakan tahun ini juga pilot project subsidi langsung elpiji 3 kg akan diberlakukan. Daerah yang akan diberikan program itu ialah Bali, Batam, dan Tarakan. Nantinya, hanya masyarakat yang memiliki kartu keluarga sejahtera (KKS) yang bisa membeli elpiji 3 kg.

"Jadi kami akan ada single platform. Akan ada satu kartu yang bisa untuk kesehatan sampai listrik. Kita harus cukup sabar selama harga ada dua di satu barang akan begini," imbuhnya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya