INVESTOR lebih tertarik berinvestasi pada proyek infrastruktur di sektor energi karena dinilai lebih siap.
Demikian diungkap Presiden Komisioner PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) Chatib Basri saat ditemui seusai memberi keynote speech dalam acara Indonesia Infrastructure Finance Conference 2015 di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (17/6).
Menurut Chatib, gembar-gembor target pengadaan listrik 35.000 MW yang sedang gencar dikemukakan pemerintah membuat investor merasa sektor energi lebih siap.
"Sebetulnya mungkin minatnya beragam dan macam-macam. Tapi akhirnya orang pada pragmatis, yang paling ready, regulasinya ada, dan paling fokus apa. Government driven apa, itu adalah listrik. Karena pemerintah mau punya proyek 35.000 MW," kata Chatib.
Pemerintah Indonesia mencanangkan 20.000 MW dari total 35.000 MW yang ditargetkan hingga 2020 berasal dari penyedia swasta (IPP). Hal itu mendorong partisipasi sektor privat pada investasi bidang energi yang sempat mengalami penurunan drastis akibat krisis mata uang.
IJ global merilis antara 2005 hingga 2014, investasi swasta di sektor energi kurang dari USD 500 juta.
Persoalan yang dihadapi investor menurut Chatib bukan semata terkait pendanaan, melainkan kendala teknis seperti pembebasan lahan, "Persoalannya bukan insentif kalau infrastruktur, tapi soal, kaya misalnya (PLTU) Batang itu soal tanah. Anda mau kasih insentif kalau tanahnya tidak ada tidak bisa bangun infrastruktur."
Chatib yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan pada kabinet Indonesia Bersatu II menilai hal terpenting untuk menjamin proyek infrastruktur ialah regulasi dan jaminan dari pemerintah, bukan hanya insentif pajak saja.
"Paling krusial adalah persiapan dari projeknya, regulatory risk, mengenai guaranteenya ada atau tidak. Bukan mengenai insentif pajaknya ada atau tidak," tandasnya. (Q-1)