Opini

Selebritas Langit

Jum'at, 13 October 2017 00:16 WIB Penulis: Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

thinkstock

KEHADIRAN media yang semakin modern semakin banyak melahirkan selebritas baru. Namun, banyak selebritas di bumi tetapi tidak ada yang mengenal mereka di langit. Sebaliknya, banyak orang yang tidak mengenal mereka di bumi tetapi termasuk ke dalam jajaran selebritas langit. Seandainya disuruh memilih, pasti semua orang lebih memilih selebritas langit ketimbang selebritas bumi.

Usia kehidupan di bumi hanya 7 menitnya akhirat kalau seseorang rata-rata berumur 70 tahun karena seharinya akhirat sama dengan seribu hari di bumi. Sayang sekali, kebanyakan orang masih lebih mengidolakan selebritas bumi daripada selebritas langit. Idola bumi ialah orang-orang yang mencapai puncak prestasi dari segi fisik-biologis, seperti tampan, seniman, dan orang-orang sukses di bangku kuliah, di dunia usaha, dan di dunia pemerintahan, sedangkan idola langit ialah orang-orang kelihatannya tidak memiliki banyak kelebihan secara fisik atau secara duniawi tetapi memiliki spiritual saving dan kekuatan idealisme yang kuat di mata Tuhan.

Kini tampak terjadi pergeseran idola di dalam masyarakat. Kita sering menyaksikan sejumlah tokoh selebritas yang semakin krisis kepercayaan diri. Tampaknya krisis ini disebabkan dua hal. Pertama terjadinya kekosongan figur-figur idola yang layak dijadikan panutan. Kedua bukan terjadi kekosongan idola, melainkan sedang terjadi pembengkakan kualitas di dalam masyarakat sehingga figur-figur produktif sedang booming. Akibatnya sulit memilih mana yang terbaik di antara begitu banyak figur yang ada. Mencari orang pintar di tengah-tengah orang pintar sama sulitnya mencari orang paling bodoh di antara para orang bodoh. Ini mengingatkan kita dengan kata-kata orang arif, ‘Ada dua hal yang tidak akan pernah ditemukan, yaitu mencari sesuatu yang tidak akan pernah ada dan mencari sesuatu yang sesungguhnya sudah ditemukan’

Di dalam masyarakat kita sekarang banyak orang sedang sibuk mencari figur-figur idola untuk dijadikan sebagai kader dan calon pemimpin, baik di lingkungan legislatif maupun eksekutif. Figur idola kini sedang diperebutkan berbagai partai politik. Sebentar lagi akan disusul calon-calon pemimpin eksekutif. Yang jadi pertanyaan ialah kriteria figur yang idola itu seperti apa?

Ada yang melihat dari segi ketenaran atau selebritas, ada juga menekankan aspek kualitas dan profesionalitas, dan yang lainnya menggabungkan beberapa kriteria, termasuk kualitas keimanan dan integritas pribadi. Jika kita ingin belajar pengalaman Nabi Muhammad SAW di dalam merekrut calon pemimpin, pertama kali kita harus tahu kriteria orang yang dicari sesuai dengan kebutuhan jabatan. Ketika jabatan panglima angkatan perang kosong, Nabi mencari masukan tentang figur yang terbaik untuk menduduki posisi itu. Nabi sendiri ikut menyeleksi. Di luar dugaan, ternyata yang dipilih Nabi ialah Usamah ibn Zaid, yang notabene umurnya masih kurang dari 20 tahun. Sahabat senior bertanya mengapa memilih Usamah? Nabi menjelaskan, selain ia selama ini menunjukkan bakat-bakat militernya yang brilian, ayahnya korban di medan perang. Dengan demikian, tentu ia memiliki motivasi kuat untuk melanjutkan idealisme bapaknya.

Dalam kesempatan lain, Nabi memilih di antara sahabatnya untuk menjabat sebagai gubernur di sejumlah provinsi sepenuhnya didasarkan melalui pertimbangan rasional, bukan KKN. Muawiyah ibn Abi Sufyan dipilih menjadi gubernur di Suriah (Damaskus) karena memang basis dan orangtuanya di sana. Amru bin Ash diangkat menjadi gubernur di Mesir karena ia menguasai wilayah itu. Musa Al-Asy’ari sebagai gubernur di Kuffah, Mu’adz bin Jabal gubernur di Yaman, dan Abu Hurairah gubernur di Bahrain. Sekretaris pribadi Nabi yang tak pernah berganti yaitu Zain ibn Tsabit dipilih karena keahliannya yang menguasai enam bahasa asing, yaitu bahasa Persia, Qibti, Ibrani (Hebrew), Suryani, Romawi, dan bahasa-bahasa Arab lokal lainnya.

Komentar