Polkam dan HAM

Menjaga Ideologi Tugas Bersama

Ahad, 13 August 2017 05:49 WIB Penulis: Nur Aivanni

Presiden Joko Widodo membantu anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Syafii Maarif dalam program pendidikan penguatan Pancasila di Istana Bogor, Jabar, kemarin. -- ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

PRESIDEN Joko Widodo menekankan butuh pe­ran semua pihak menjaga Pancasila sebagai ideologi bangsa. Pasalnya, pertarungan ideologi ataupun infiltrasi ideologi saat ini sudah sangat nyata.

“Ideologi Pancasila bisa mengarahkan kepada kita kembali pada cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Supaya pertarungan ideologi tetap kita menangi,’’ ujar Presiden Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran program penguatan pendidikan Pancasila, di halaman belakang Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Kepala negara mengatakan banyak orang mengira bahwa pertarungan ideologi di dunia sudah selesai karena tembok Berlin (Jerman) sudah roboh dan usainya perang dingin antara blok barat dan blok timur. “Tidak, dengan cara berbeda mereka akan masuk, entah lewat musik, entah lewat tari, entah lewat budaya, ekonomi, hati-hati,” ujar.
Dalam menghadapi tantangan-tantangan ke depan, kata Jokowi, tanpa ada sebuah ideologi yang mengarahkan kembali pada cita-cita kemerdekaan, Indonesia akan sulit untuk bertarung ataupun berkompetisi dengan negara-negara lain. Salah satu tantangannya, yakni menghadapi perubahan dunia yang sangat cepat di era teknologi saat ini.
“Apa yang harus kita lakukan? Kita harus memperkuat nilai-nilai karakter bangsa, nilai-nilai keagamaan, semuanya harus kita perkuat. Karena terjangan, pertarungan ideologi itu nyata ada baik melalui media sosial, entah Facebook, Instagram, Twitter, bisa lewat semuanya. Ja­ngan sampai nilai-nilai kita hilang karena terjangan­ infiltrasi ideologi,” tegasnya.

Untuk itu, Jokowi mengingatkan bahwa menjadi tugas bersama semua pihak dalam membina ideologi Pancasila. Menurutnya, pemerintah atau Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) tidak bisa bekerja sendirian. “Kita harus mengajak semua kalangan untuk terlibat melakukan kerja besar ini. Mulai perguruan tinggi, ormas, organisasi keagamaan, pemuda, harus bekerja sama dalam membina ideologi Pancasila,” tuturnya.

Seusai acara di Bogor, Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo bertolak menuju Kabupaten Jember, Jawa Timur. Di hadapan santri dan santriwati Ponpes Nurul Islam Jember, Presiden kembali mengingatkan perlunya menjaga kerukunan antarwarga bangsa di Indonesia di tengah keberagaman.

“Pesan saya sangat jelas bahwa kita ini harus rukun dengan saudara-saudara kita karena sekali lagi kita adalah saudara sebangsa dan setanah air,” katanya.

Melalui pendidikan
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir mengakui bahwa salah satu permasalahan bangsa ialah menurunnya pemahaman tentang ideologi Pancasila. Pendidikan, sambungnya, memiliki peran strategis untuk mengatasi masalah tersebut.

“Pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang Pancasilais yang tidak hanya pandai secara kognitif, tetapi memahami permasalahan bangsa sehingga bisa berkontribusi untuk membangun bangsanya,” katanya.

Ia menilai bahwa proses pendidikan tinggi khususnya Pancasila yang merupakan mata kuliah wajib program diploma dan sarjana masih belum optimal.

Oleh sebab itu, kata dia, diperlukan program penguatan nilai-nilai Pancasila. Untuk menyempurnakan itu, sambungnya, Kemenristek Dikti bersama UKP-PIP menyelenggarakan peluncuran program penguatan pendidikan Pancasila. (X-10)

Komentar