MI Muda

Yuk Keroyokan Lawan Konten Negatif

Ahad, 13 August 2017 04:01 WIB Penulis: Hilda Julaika/M-1

DOK HILDA

KANTOR Gedung Serbaguna Balai Kota Bandung Jumat (28/7) pagi itu riuh dengan kehadiran pelajar SMA dan SMK di Bandung. Mereka sibuk dengan kamera DSLR atau ponsel canggih yang dibawa.

Ya, Muda sedang menyaksikan kegiatan lokakarya Creators for Change untuk pelajar di Bandung. Mereka berlatih membuat konten positif melalui kanal Youtube bersama MAARIF Institute dan Cameo Project. Penasaran apa itu Creators for Change? Simak liputannya berikut ini.

Kesempatan untuk eksis melalui medium teks, foto, hingga video ternyata mesti dibarengi kemampuan memastikan konten yang kita buat positif.

Sayangnya, menurut Direktur Program MAARIF Institute, Khelmy K Pribadi, isu sosial di media sosial seperti hatespeech, xenophobia, dan extremism kini banyak beredar.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil alias Kang Emil yang juga hadir dalam acara ini menegaskan Indonesia sedang dalam kondisi perlu bantuan. Banyak pihak tidak menginginkan adanya persatuan di antara kemajemukan.

"Hidup kita sudah takdirnya bertetangga, dengan orang-orang yang berbeda agama, suku bangsa. Indonesia itu jumlah suku bangsanya saja katanya lebih dari 1.000, jumlah pulaunya 17 ribu lebih, jumlah bahasanya lebih dari 700, maka kita ini memang beda," ujar Kang Emil.

Menebar manfaat dari ponsel

"Jadi, kamu orang-orang baik yang terpilih hari ini, mari gunakan waktumu saat memegang ponsel untuk mengunggah hal-hal yang positif. Jadilah orang-orang yang bermanfaat. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia dengan manfaat yang lebih banyak bagi masyarakat," lanjut Kang Emil.

Berkaitan dengan workshop pembuatan konten-konten yang positif, Irfan Amalee, Founder Peace Generation, menjelaskan aktivis media sosial bisa menggunakan social network analysis. Metode ini memaparkan sejumlah pertanyaan berupa konten apa, konten untuk siapa, temanya apa, kemudian di luar sana sedang ada tema apa, hingga merekomendasikan respons terhadap tema tersebut. Menurutnya, social network analysis di dunia maya ini mampu merekam semuanya, terutama di Twitter.

Jangan diam

Irfan memaparkan, sebagai warga dunia maya, kita harus mengetahui isu apa yang sedang diperbincangkan hingga isu negatif apa yang seharusnya kita lawan. Kemudian, memahami laman-laman yang harus kita imbangi.

Irfan membenarkan perkataan Kang Emil. Bila kita diam saja melihat sebanyak 814 ribu laman yang mengajak kepada kebencian dan tidak melakukan apa-apa, kita ikut menanggung dosa tersebut.

"Kita harus bangkit. Website-website tersebut memang sudah diblok pemerintah. Namun, meski sudah diblok, tetap bisa dibuat lagi. Terus seperti itu, tidak akan pernah mati. Mereka hanya akan mati bila adanya perlawanan. Jadi misalnya kalau ada satu orang bikin konten negatif, butuh 10 orang yang membuat konten positif," ujar Irfan.

Tiga level

Irfan mengurai terdapat 3 isu utama yang perlu diperhatikan saat kita ingin eksis di medsos sembari berkontribusi. Pertama, intoleransi, berupa perasaan, tidak suka melihat orang senang, tidak suka pada perbedaan. Hanya berupa rasa dan belum melakukan sesuatu.

Kedua, radikalisme, Irfan menggunakan istilah BBM, kependekan benar-benar benci. Konten BBM terjadi ketika individu menyerang dengan kata-kata.

Ketiga, ekstremisme, yaitu ketika kebencian diwujudkan dalam bentuk tindakan seperti membunuh.

"Di Indonesia ketiga-tiganya sudah ada, paling banyak intoleransi yang banyak menyebar di hati. Kedua, kebencian yang di-posting dalam bentuk kekerasan. Apabila kita diam tanpa melawan, ini semua akan semakin besar," tegasnya. "Jadi, kalian harus memiliki critical thinking. Ketika melihat sesuatu yang hoaks, bikin konten yang bagus sebagai respons dari konten hoaks tersebut," lanjut Irfan.

Irfan membenarkan konten negatif memang justru cenderung mendapat perhatian lebih banyak jika dibandingkan dengan yang positif. Oleh karena itu, kita tidak bisa diam dan membiarkan.

Fokus ke konten

Cameo Project merupakan salah satu proyek yang bertujuan memberikan inspirasi. Yosi salah satu penggerak dalam proyek ini menegaskan, dalam membuat konten yang baik, jangan memiliki ekspektasi tinggi untuk memiliki subscriber banyak. Sebaliknya, fokus pada konten yang bermanfaat bagi audiens.

Apabila kita mengunggah konten hanya agar memiliki pemirsa banyak, biasanya akan kecewa ketika ternyata yang menonton sedikit. Kondisi akan berbeda jika sedari awal memang ingin konten bermanfaat, rasa senang yang akan mendominasi dalam diri.

"Diniatkan menghasilkan karya yang orisinal sehingga memiliki nilai apresiasi dan kebermanfaatan tinggi," ujar Hermann Josis Mokalu alias Yosi yang merupakan salah satu penyanyi grup Project Pop.

Sementara itu, Ria Ricis yang merupakan salah satu pesohor di Youtube, mengaku sejak aktif memproduksi video setahun lalu, mengaku mengangkat berbagai tema, mulai agama hingga squisy.

"Dari Ricis sendiri, kita itu satu, mau beda agama, pekerjaan atau apa pun kita tetap satu. Karena perbedaan itulah yang membuat kita kuat," tukasnya. Jadi, jangan cuma rekam, edit dan unggah ya! Pastikan kamu merekam jejak positif, bukan sebaliknya! (M-1)

Hilda Julaika, Jurusan Jurnalistik

Universitas Padjadjaran

Komentar